Murid
– murid SMP Negeri 1 ciawi sering menceritakan seorang guru bernama bu Inaya
yang biasanya ada di barisan depan pagar sekolah pagi - pagi. Bukan karena cantik
parasnya, tapi para siswa kehilangan teladan yang biasa sering dilakukan bu Inaya.
Mulai hari ini, bu Inaya sudah tidak mengajar Biologi di sekolah tersebut, beliau sedang
sakit berat bernama kanker paru – paru.
Anak yang dulunya nakal, bernama Badru dengan sosok badannya yang gemuk, paling tinggi di sekolahnya, kulitnya berwarna sawo matang dan rambutnya yang kriting, kehilangan sosok bu Inaya yang sering berpapasan ketika berangkat sekolah karena jalan yang dilaluinya sama. “Bu guru selalu mengambil sampah yang berserakan di jalan lalu memegangnya hingga menemukan tong sampah. bu guru terlihat kotor tangannya ketika ada di depan sekolah. Makanya bu guru sering cuci tangan di pagi hari, karena bu guru sangat cinta dengan kebersihan. Bukan 1 atau 2 kali, tapi hampir setiap hari.”
Berbeda
dengan temannya Sukri yang dulunya sering kelihatan pacaran di sekolah. Sosok
Sukri yang ganteng, kurus, berkacamata, dan kulitnya yang putih membuat para
teman –teman perempuan sekolahnya terkagum – kagum padanya. Pada suatu hari,
Sukri sedang asyik – asyiknya bermesraan di sebuah bangku ayun yang ada di taman
sekolah dengan teman sekelasnya. Bu Inaya yang melihatnya cukup tersenyum dan
berkata, “ nak Sukri, ibu ingin berpesan, jaga selalu ibumu ya. Cintai ibumu
dengan segenap hati, jadikan dia nomor 2 di hati kamu setelah Tuhan. Cintai
siapa yang pantas sekarang kamu cintai. Ibu percaya, pemikiran kamu udah
dewasa.”
Rambut
berponi, kacamata tebal, pendiam, dan bodoh merupakan sosok salah satu muridnya
bu Inaya bernama Wibowo. Dahulu, Wibowo menganggap dirinya sendiri adalah siswa
paling bodoh di sekolahnya. Anak ini sering jadi korban Bully-nya Badru. Pernah suatu ketika, bu Inaya melihat Wibowo
sedang dipalak oleh Badru. “heh elo mau gua patahin kacamata elo? Kalo ngga
pengen, bagi - bagi duit lah. Gua mau jajan nih!”. Wibowo merupakan orang yang
kocar – kacir jika berpapasan dengan Badru. Apa yang dilakukan bu Inaya ketika
itu? Bukannya marah dan teriak – teriak, tapi bu Inaya langsung mendekati dan menyuruh
Wibowo untuk kembali ke kelasnya, lalu merangkul Badru dan membawanya ke sebuah
bangku ayun yang sering dijadikan tempat pacaran murid-muridnya itu. Badru
takutnya bukan main kepada bu Inaya, takut dimarahi!Sambil memetik tangkai bunga ungu segar, bu Inaya berbicara, “Badru, coba lihat bunga ini. Lihat, indah banget kan?”. “ii i i iyaa bu..” jawab Badru gugup.
“nah,
sekarang ibu cabut satu persatu ya mahkota bunganya ini.” Badru melihat mahkota
bunga ini dicabuti satu persatu. Semakin lama, mahkota bunga ini habis dan
sudah tidak terlihat sepert ‘bunga’ lagi.
“coba
lihat bunga ini. Kamu tadi lihat kan, sebelum bunga ini dicabut mahkotanya,
Indah dan menarik perhatian orang. Tetapi ketika kita hilangkan mahkota bunga
ini satu persatu, maka lama kelamaan akan habis dan tidak memiliki keindahan
sekalipun. Hal ini pun sama seperti manusia,
ketika kita memperlakukan orang dengan tidak baik, maka sifat baik teman
kepada kita akan hilang. Orang bukannya mendekat, tapi menjauh.”
Badru
terdiam sejenak saat itu, Membayangkan kesalahan – kesalahannya kepada Wibowo.
Teringat sekali Wibowo tidak mau meminjamkan pulpen ketika ulangan, padahal
Wibowo punya banyak pulpen di cepuknya. “nak, tidak usah berdiam diri seperti
melamun. Sekarang, kembali ke kelas. Udah mau masuk pelajaran Pak Afif tuh.
Tetap semangat dan jaga baik – baik semua temanmu!” ucap bu Inaya sambil
tersenyum.
Sekarang,
ketiga anak ini, Wibowo, Sukri, dan Badru adalah teman paling akrab di
kelasnya. Kehadiran sosok bu Inaya menjadikan mereka contoh bagi teman –
temannya karena suatu ‘praktikum’ yang dilakukan bu Inaya terhadap ketiga anak
tersebut.
Pada
hari senin, bu Inaya menyuruh seluruh murid kelas 8A untuk membawa kopi, gula,
dan susu bubuk. Absen 1 – 12 membawa 1 sendok kopi, absen 13 – 26 membawa 1
sendok gula pasir, dan absen 27 – 40 membawa 1 sendok susu. Dengan polosnya,
para siswa menganggap mau minum kopi dan susu bareng, makanya mereka sangat
antusias membawa 3 jenis bubuk tersebut.
Keesokan
harinya tepat hari selasa, seluruh siswa membawa tugas – tugasnya masing -
masing. Bu Inaya membawa 3 buah toples dan telah diberi label “Kopi”, “Gula,”
dan “Susu” dan menyimpannya di atas meja.
“sekarang,
masukkan kopi yang kalian bawa kedalam toples!” perintah bu Inaya. siswa dari
absen 1 – 12 memasukkan kopi ke dalam
toples berlabel “kopi”. “sekarang, masukkan gula pasir yang kalian bawa ke
dalam toples!” lanjut perintah bu Inaya. Siswa dari 13 – 26 memasukkan gula ke
dalam toples berlabel “gula”. Perintah selanjutnya, “sekarang masukkan susu
bubuk kedalam toples!”. Siswa dari 27 –
40 memasukkan susu bubuk ke dalam toples berlabel “susu”.
“nah,
kalian sudah selesai melakukan praktikum hari ini.” “lho, maksudnya gimana bu?”
ucap Wibowo yang tidak menangkap maksud dari bu Inaya.
“kalau
kalian tidak mengerti, baik akan ibu jelaskan. Perintah ibu adalah memasukkan
ke dalam toples, tapi ibu tidak memerintahkan untuk memasukkan gula ke toples
berlabel ‘gula’, kopi ke toples berlabel ‘kopi’, dan susu bubuk ke dalam toples
berlabel ‘susu’. Tapi, kalian memasukkannya secara otomatis ke dalam toplesnya
masing – masing sesuai label. Maksudnya adalah ketika kita menganggap diri kita
seorang yang dermawan, maka sifat dermawan itu akan mengisi diri kita.
Begitupun jika kita menganggap diri kita orang yang lemah, maka memang benar
itu adanya bahwa kita adalah orang lemah. Jadi, beri label pada diri kita
dengan hal – hal yang baik. Setuju?”
“SETUJUUUUU!!!”
jawab para siswa serentak. “baik, cukup sekian dulu praktikum dari Ibu, semoga
kalian menjadi orang yang memiliki sifat baik dari sekarang dan seterusnya.
Terima kasih, selamat siang anak – anak!” salam bu Inaya sambil meninggalkan
kelas.
Wibowo
yang melabeli dirinya culun dan memang benar – benar menjadi terlihat culun,
kini menjadi anak yang rapi dan terlihat tampan di kelasnya. Kacamatanya pun
berubah menjadi lebih stylish. Wibowo
kini melabeli dirinya sendiri dengan “orang pintar dan kuat”.
Badru
yang melabeli dirinya sebagai anak nakal, kini tidak seperti itu lagi. Malah
dia sering mentraktir teman – temannya untuk jajan di sekolah. Badru kini
melabeli dirinya sebagai “orang yang suka menolong”.
Seperti
itulah kenang – kenangan antara siswa SMP negeri 1 Ciawi dengan gurunya bernama
bu Inaya. Sifat bu Inaya yang ‘memancar’ kepada siswanya, menjadikannya guru
teladan nomer 1 di sekolahnya.
3
orang siswa teladan, yaitu Badru, Wibowo, dan Sukri berencana menjenguk dan
memberikan ucapan terima kasih kepada bu Inaya atas inspirasi – inspirasi yang
diberikan olehnya. Mereka datang ke sebuah rumah sakit tempat bu Inaya
menjalani pengobatan.
Ketika
mereka memasuki ruang tempat bu Inaya di rawat, terlihat sekali bekas luka
cakar yang pernah dilakukan oleh Farah karena perkelahiannya dengan Hasna di
punggung tangan kanannya. Disitu juga terlihat bekas telapak tangannya terkena
luka bakar akibat melindungi muridnya ketika praktikum karena terjadi ledakan
api.
Setelah
diketahui, ternyata dokter bercerita bahwa Bu Inaya ini terkena kanker paru –
paru karena banyak debu yang masuk ke dalam paru – parunya. Badru ingat sekali
bahwa bu Inaya sering menyapu di dekat pagar depan sekolah yang terkenal banyak
debunya itu, karena beliau tidak mau siswanya menghisap debu.
Bu
Inaya, semoga lekas sembuh ya.
Kami ingin engkau kembali memberi cahaya kehidupan di sekolah.
Wrote by : Edvan Berliansa
NIM : 111344020
Program Studi : Teknik Telekomunikasi
KADEP LPM ( Lembaga Pengembangan Media )
DKM Luqmanul Hakim POLBAN
2013
Wrote by : Edvan Berliansa
NIM : 111344020
Program Studi : Teknik Telekomunikasi
KADEP LPM ( Lembaga Pengembangan Media )
DKM Luqmanul Hakim POLBAN
2013



Tidak ada komentar:
Posting Komentar