Kamis, 05 September 2013

Essai: Teladan Surga



Murid – murid SMP Negeri 1 ciawi sering menceritakan seorang guru bernama bu Inaya yang biasanya ada di barisan depan pagar sekolah pagi - pagi. Bukan karena cantik parasnya, tapi para siswa kehilangan teladan yang biasa sering dilakukan bu Inaya. Mulai hari ini, bu Inaya sudah tidak mengajar  Biologi di sekolah tersebut, beliau sedang sakit berat bernama kanker paru – paru.


Anak yang dulunya nakal, bernama Badru dengan sosok badannya yang gemuk, paling tinggi di sekolahnya, kulitnya berwarna sawo matang dan rambutnya yang kriting, kehilangan sosok bu Inaya yang sering berpapasan ketika berangkat sekolah karena jalan yang dilaluinya sama. “Bu guru selalu mengambil sampah yang berserakan di jalan lalu memegangnya hingga menemukan tong sampah. bu guru terlihat kotor tangannya ketika ada di depan sekolah. Makanya bu guru sering cuci tangan di pagi hari, karena bu guru sangat cinta dengan kebersihan. Bukan 1 atau 2 kali, tapi hampir setiap hari.”
Berbeda dengan temannya Sukri yang dulunya sering kelihatan pacaran di sekolah. Sosok Sukri yang ganteng, kurus, berkacamata, dan kulitnya yang putih membuat para teman –teman perempuan sekolahnya terkagum – kagum padanya. Pada suatu hari, Sukri sedang asyik – asyiknya bermesraan di sebuah bangku ayun yang ada di taman sekolah dengan teman sekelasnya. Bu Inaya yang melihatnya cukup tersenyum dan berkata, “ nak Sukri, ibu ingin berpesan, jaga selalu ibumu ya. Cintai ibumu dengan segenap hati, jadikan dia nomor 2 di hati kamu setelah Tuhan. Cintai siapa yang pantas sekarang kamu cintai. Ibu percaya, pemikiran kamu udah dewasa.”
Rambut berponi, kacamata tebal, pendiam, dan bodoh merupakan sosok salah satu muridnya bu Inaya bernama Wibowo. Dahulu, Wibowo menganggap dirinya sendiri adalah siswa paling bodoh di sekolahnya. Anak ini sering jadi korban Bully-nya Badru. Pernah suatu ketika, bu Inaya melihat Wibowo sedang dipalak oleh Badru. “heh elo mau gua patahin kacamata elo? Kalo ngga pengen, bagi - bagi duit lah. Gua mau jajan nih!”. Wibowo merupakan orang yang kocar – kacir jika berpapasan dengan Badru. Apa yang dilakukan bu Inaya ketika itu? Bukannya marah dan teriak – teriak, tapi bu Inaya langsung mendekati dan menyuruh Wibowo untuk kembali ke kelasnya, lalu merangkul Badru dan membawanya ke sebuah bangku ayun yang sering dijadikan tempat pacaran murid-muridnya itu. Badru takutnya bukan main kepada bu Inaya, takut dimarahi!

Sambil memetik tangkai bunga ungu segar, bu Inaya berbicara, “Badru, coba lihat bunga ini. Lihat, indah banget kan?”. “ii i i iyaa bu..” jawab Badru gugup.
“nah, sekarang ibu cabut satu persatu ya mahkota bunganya ini.” Badru melihat mahkota bunga ini dicabuti satu persatu. Semakin lama, mahkota bunga ini habis dan sudah tidak terlihat sepert ‘bunga’ lagi.
“coba lihat bunga ini. Kamu tadi lihat kan, sebelum bunga ini dicabut mahkotanya, Indah dan menarik perhatian orang. Tetapi ketika kita hilangkan mahkota bunga ini satu persatu, maka lama kelamaan akan habis dan tidak memiliki keindahan sekalipun. Hal ini pun sama seperti manusia,  ketika kita memperlakukan orang dengan tidak baik, maka sifat baik teman kepada kita akan hilang. Orang bukannya mendekat, tapi menjauh.”
Badru terdiam sejenak saat itu, Membayangkan kesalahan – kesalahannya kepada Wibowo. Teringat sekali Wibowo tidak mau meminjamkan pulpen ketika ulangan, padahal Wibowo punya banyak pulpen di cepuknya. “nak, tidak usah berdiam diri seperti melamun. Sekarang, kembali ke kelas. Udah mau masuk pelajaran Pak Afif tuh. Tetap semangat dan jaga baik – baik semua temanmu!” ucap bu Inaya sambil tersenyum.
Sekarang, ketiga anak ini, Wibowo, Sukri, dan Badru adalah teman paling akrab di kelasnya. Kehadiran sosok bu Inaya menjadikan mereka contoh bagi teman – temannya karena suatu ‘praktikum’ yang dilakukan bu Inaya terhadap ketiga anak tersebut.
Pada hari senin, bu Inaya menyuruh seluruh murid kelas 8A untuk membawa kopi, gula, dan susu bubuk. Absen 1 – 12 membawa 1 sendok kopi, absen 13 – 26 membawa 1 sendok gula pasir, dan absen 27 – 40 membawa 1 sendok susu. Dengan polosnya, para siswa menganggap mau minum kopi dan susu bareng, makanya mereka sangat antusias membawa 3 jenis bubuk tersebut.
Keesokan harinya tepat hari selasa, seluruh siswa membawa tugas – tugasnya masing - masing. Bu Inaya membawa 3 buah toples dan telah diberi label “Kopi”, “Gula,” dan “Susu” dan menyimpannya di atas meja.
“sekarang, masukkan kopi yang kalian bawa kedalam toples!” perintah bu Inaya. siswa dari absen  1 – 12 memasukkan kopi ke dalam toples berlabel “kopi”. “sekarang, masukkan gula pasir yang kalian bawa ke dalam toples!” lanjut perintah bu Inaya. Siswa dari 13 – 26 memasukkan gula ke dalam toples berlabel “gula”. Perintah selanjutnya, “sekarang masukkan susu bubuk kedalam toples!”.  Siswa dari 27 – 40 memasukkan susu bubuk ke dalam toples berlabel “susu”.
“nah, kalian sudah selesai melakukan praktikum hari ini.” “lho, maksudnya gimana bu?” ucap Wibowo yang tidak menangkap maksud dari bu Inaya.
“kalau kalian tidak mengerti, baik akan ibu jelaskan. Perintah ibu adalah memasukkan ke dalam toples, tapi ibu tidak memerintahkan untuk memasukkan gula ke toples berlabel ‘gula’, kopi ke toples berlabel ‘kopi’, dan susu bubuk ke dalam toples berlabel ‘susu’. Tapi, kalian memasukkannya secara otomatis ke dalam toplesnya masing – masing sesuai label. Maksudnya adalah ketika kita menganggap diri kita seorang yang dermawan, maka sifat dermawan itu akan mengisi diri kita. Begitupun jika kita menganggap diri kita orang yang lemah, maka memang benar itu adanya bahwa kita adalah orang lemah. Jadi, beri label pada diri kita dengan hal – hal yang baik. Setuju?”
“SETUJUUUUU!!!” jawab para siswa serentak. “baik, cukup sekian dulu praktikum dari Ibu, semoga kalian menjadi orang yang memiliki sifat baik dari sekarang dan seterusnya. Terima kasih, selamat siang anak – anak!” salam bu Inaya sambil meninggalkan kelas.
Wibowo yang melabeli dirinya culun dan memang benar – benar menjadi terlihat culun, kini menjadi anak yang rapi dan terlihat tampan di kelasnya. Kacamatanya pun berubah menjadi lebih stylish. Wibowo kini melabeli dirinya sendiri dengan “orang pintar dan kuat”.
Badru yang melabeli dirinya sebagai anak nakal, kini tidak seperti itu lagi. Malah dia sering mentraktir teman – temannya untuk jajan di sekolah. Badru kini melabeli dirinya sebagai “orang yang suka menolong”.
Seperti itulah kenang – kenangan antara siswa SMP negeri 1 Ciawi dengan gurunya bernama bu Inaya. Sifat bu Inaya yang ‘memancar’ kepada siswanya, menjadikannya guru teladan nomer 1 di sekolahnya.
3 orang siswa teladan, yaitu Badru, Wibowo, dan Sukri berencana menjenguk dan memberikan ucapan terima kasih kepada bu Inaya atas inspirasi – inspirasi yang diberikan olehnya. Mereka datang ke sebuah rumah sakit tempat bu Inaya menjalani pengobatan.
Ketika mereka memasuki ruang tempat bu Inaya di rawat, terlihat sekali bekas luka cakar yang pernah dilakukan oleh Farah karena perkelahiannya dengan Hasna di punggung tangan kanannya. Disitu juga terlihat bekas telapak tangannya terkena luka bakar akibat melindungi muridnya ketika praktikum karena terjadi ledakan api.
Setelah diketahui, ternyata dokter bercerita bahwa Bu Inaya ini terkena kanker paru – paru karena banyak debu yang masuk ke dalam paru – parunya. Badru ingat sekali bahwa bu Inaya sering menyapu di dekat pagar depan sekolah yang terkenal banyak debunya itu, karena beliau tidak mau siswanya menghisap debu.
Bu Inaya, semoga lekas sembuh ya.
Kami ingin engkau kembali memberi cahaya kehidupan di sekolah.

Wrote by : Edvan Berliansa
NIM : 111344020
Program Studi : Teknik Telekomunikasi 
KADEP LPM ( Lembaga Pengembangan Media )
DKM Luqmanul Hakim POLBAN
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar