Selasa, 17 September 2013

pamflet kegiatan di bulan september 2013


semuanya terbuka untuk umum dan gratis.. hehe

Kamis, 05 September 2013

Essai: Teladan Surga



Murid – murid SMP Negeri 1 ciawi sering menceritakan seorang guru bernama bu Inaya yang biasanya ada di barisan depan pagar sekolah pagi - pagi. Bukan karena cantik parasnya, tapi para siswa kehilangan teladan yang biasa sering dilakukan bu Inaya. Mulai hari ini, bu Inaya sudah tidak mengajar  Biologi di sekolah tersebut, beliau sedang sakit berat bernama kanker paru – paru.


Anak yang dulunya nakal, bernama Badru dengan sosok badannya yang gemuk, paling tinggi di sekolahnya, kulitnya berwarna sawo matang dan rambutnya yang kriting, kehilangan sosok bu Inaya yang sering berpapasan ketika berangkat sekolah karena jalan yang dilaluinya sama. “Bu guru selalu mengambil sampah yang berserakan di jalan lalu memegangnya hingga menemukan tong sampah. bu guru terlihat kotor tangannya ketika ada di depan sekolah. Makanya bu guru sering cuci tangan di pagi hari, karena bu guru sangat cinta dengan kebersihan. Bukan 1 atau 2 kali, tapi hampir setiap hari.”

Essai : Indonesiaku belum Hijau, belum Merdeka Seutuhnya





Ringkasan:
Indonesiaku belum Hijau, belum Merdeka Seutuhnya

Tepat dihari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2013. Usia Indonesia kini sudah 68 tahun. Saya mencoba berbagi cerita yang bukan sebuah cerita fiktif ataupun dongeng belaka. Ini kisah nyata. Saya kira cerita pilu ini seharusnya sudah tidak ada lagi di bumi pertiwi. Sudah setengah abad lebih Indonesia telah merdeka. Keluar dari ketertindasan oleh penjajah. Namun tahukah Kau kawan? Membaca kisah ini akan membuat tubuh ini seperti tersengat aliran listrik. Sebuah catatan yang dikirimkan teman saya setahun yang lalu, di akun jejaring sosial yang saya adaptasi dan sudah berlisensi dari teman saya. Dwi Fitrianto. Ini salah satu kisah perjalanan beliau yang bertugas menengok tower-tower (audit tower), menjangkau wilayah pelosok negeri ini.

-Bumi Minang Hingga Bumi Minyak-
25 September 2012 pukul 13:02
Mata ini masih tertutup ketika matahari pagi memaksa masuk dan menembus kelopak. Dari celah-celah jendela kabin tampak semburat cahaya merah. Indah. Sangat indah. Maha karya dari yang  Maha Indah. Pagi itu seperti hilang lelah di bandara. Setelah berlari mengejar waktu terbang si burung besi. Dan sekarang seperti berada di negeri awan. Dengan matahari sebagai rajanya.
19 September 2012
Burung besi ini tepat melintas di atas langit Sumatera. “Welcome to Bandara Internasional Minangkabau, Padang.” kalimat sambutan yang terbaca besar sesaat setelah kaki menginjak bumi Padang. Jujur saja dari sini aku tidak tahu mau kemana. Entah bertemu dengan siapa atau nanti akan berhadapan dengan siapa. Karena sekarang beda dengan biasanya. Kali ini kosong. Belum ada surat izin lengkap dari Jakarta. Itu berarti tidak ada alamat. Itu berarti tidak ada kordinat. Itu berarti, manjat pagar!.