Ringkasan:
Indonesiaku belum Hijau,
belum Merdeka Seutuhnya
Tepat dihari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus
2013. Usia Indonesia kini sudah 68 tahun. Saya mencoba berbagi cerita yang
bukan sebuah cerita fiktif ataupun dongeng belaka. Ini kisah nyata. Saya kira
cerita pilu ini seharusnya sudah tidak ada lagi di bumi pertiwi. Sudah setengah
abad lebih Indonesia telah merdeka. Keluar dari ketertindasan oleh penjajah.
Namun tahukah Kau kawan? Membaca kisah ini akan membuat tubuh ini seperti
tersengat aliran listrik. Sebuah catatan yang dikirimkan teman saya setahun
yang lalu, di akun jejaring sosial yang saya adaptasi dan sudah berlisensi dari
teman saya. Dwi Fitrianto. Ini salah satu kisah perjalanan beliau yang bertugas
menengok tower-tower (audit tower), menjangkau wilayah pelosok negeri ini.
-Bumi Minang Hingga Bumi Minyak-
25 September 2012 pukul 13:02
Mata ini masih tertutup ketika
matahari pagi memaksa masuk dan menembus kelopak. Dari celah-celah jendela
kabin tampak semburat cahaya merah. Indah. Sangat indah. Maha karya dari yang
Maha Indah. Pagi itu seperti hilang lelah di bandara. Setelah berlari
mengejar waktu terbang si burung besi. Dan sekarang seperti berada di negeri
awan. Dengan matahari sebagai rajanya.
19 September 2012
Burung besi ini tepat melintas di
atas langit Sumatera. “Welcome to Bandara Internasional Minangkabau, Padang.”
kalimat sambutan yang terbaca besar sesaat setelah kaki menginjak bumi Padang.
Jujur saja dari sini aku tidak tahu mau kemana. Entah bertemu dengan siapa atau
nanti akan berhadapan dengan siapa. Karena sekarang beda dengan biasanya. Kali
ini kosong. Belum ada surat izin lengkap dari Jakarta. Itu berarti tidak ada
alamat. Itu berarti tidak ada kordinat. Itu berarti, manjat pagar!.
Sesaat
teringat pendapat teman-teman. Mereka
bilang pekerjaan seperti ini hebat. Travelling
all around Indonesia. Pasti dompet tebal. Pengalaman banyak. Bisa kenal
kampung orang. Dan lain-lain dan lain-lain. Padahal semua itu sebanding dengan
resiko yang ada. Seperti ini. Bahkan aku tidak tahu harus kemana. Bahkan aku
tidak tahu apakah di depan masih ada jalan. Bahkan aku tidak tahu dengan siapa
aku akan berhadapan. Yang aku tahu hanya satu. Allah tahu. Ia tahu aku
merindukan keluargaku di rumah. Beruntung kali ini sudah ada yang
menjemput di bandara. Supir. Tidak tega aku menyebutnya. Seorang bapak, usianya
cukup tua. Sebenarnya terlalu tua untuk memegang kemudi. Tapi sudah menjadi
pekerjaannya. Aku yakin saja. Hanya sedikit basa basi menawarkan diri menggantikannya
di bangku kemudi. Benar saja. Caranya mengemudi tidak seperti kebanyakan orang
Sumatera. Terlihat seperti ragu. Maka sambil menunggu pesan dari Jakarta, aku
habiskan waktu pagi untuk mengenal kota ini. Sambil mengisi perut dan berbagi
cerita dengan bapak pemegang kemudi. “Makan nasi padang di padang” aku
suka sekali kalimat ini. Padahal disini tidak ada restoran nasi padang.
Tapi tetap saja judul ceritanya makan nasi padang. Jauh berbeda dengan nasi
padang KW-1 di Jakarta, Bandung atau kota lainnya. Disini tidak perlu
mendengar “Mau pake apa?”. Cukup duduk di tempat yang sudah disediakan maka
semua lauk pauk yang ada di restoran itu disajikannya serentak. Lengkap, tanpa
tertinggal satupun. Babeh, berikutnya aku panggil bapak tadi. Ia banyak
bercerita tentang Padang. Tentang kota ini. Tentang temanku yang dulu pernah
diantarnya. Tentang keluarganya. Tentang kehidupannya sebelum ini. Siapa yang
menyangka beliau dulu seorang abdi negara, POLRI. 38 tahun mengabdikan diri di
kepolisian resort padang. Sekarang masa tugasnya telah berakhir. Maka
dimulailah kehidupan barunya. Aku tak habis pikir dengan Negeri ini. Apa yang
salah, siapa yang harus bertanggung jawab. 38 Tahun mengabdikan diri untuk
negeri. Dan sekarang harus berakhir di bangku kemudi. Setidaknya dua hari
bersama Babeh berkeliling kota Pariaman sampai mendatangi pelosok kota Padang.
Babeh bilang gempa yang telah terjadi mengubah sepenuhnya tempat ini. Bahkan
wilayah pesisir kini ditinggalkan. Harga tanah turun drastis. Maka kehidupan pun
perlahan menghilang. Tapi sekarang justru aku di tuntut kesana. Wilayah pesisir
Padang Pariaman. Daerah yang menurut Babeh sudah ditinggalkan penduduknya.
Katanya padahal dulu tempat ini adalah wisata andalan kota Padang. Berbondong
bondong orang datang untuk sekedar melepas penat di kota. Jelas saja. Pasir
putih, ombak yang ramah serta jutaan keindahan lainnya. Ditambah ini adalah
gerbang indonesia menuju laut lepas. Samudera Hinda. Benar, Kehidupan seperti
berganti dengan ketakutan. Rumah di pinggir pantai kosong ditinggalkan
penghuninya. Beberapa bangunan bekas penginapan juga kosong tak berpenghuni.
Desa ini seperti terdoktrin dengan ganasnya laut. Ditambah beberapa papan yang
justru membuat takut dan trauma, bertuliskan “Jalur Evakuasi Tsunami”.
Matahari
seperempat berada di ujung barat saat aku berada di seperempat ketinggian
menara. Beruntung pekerjaan hanya di bagian bawah. Dengan tinggi menara 70
meter. Sudah pasti matahari menari nari di puncak sana. Membakar apapun yang di
temuinya. Alhamdulillah. Lokasi terakhir ini hanya di bagian bawah, maka aku
bisa menjulurkan lidahku pada matahari. “Hehe.” Tawaku dalam hati menghibur
diri. Sejenak suara merdu menghentikan pekerjaan. Keras terdengar dari bawah
irama musik melayu. Tidak lama, kemudian berganti dengan alunan anak anak
mengaji. Lucu sekali. Sepertinya di dalam mushala mereka berebut mikrophone.
Saling mengeraskan suara masing-masing. Andai saja pekerjaanku selesai saat
itu, ingin sekali ikut mereka berebut mikrophone. Pasti suaraku yang paling keras
dan merdu. Aku tak mungkin menuliskan semuanya. Ini bukan catatan seorang bocah
petualang yang menjelajah ujung barat hingga ujung timur Sumatera. Bukan juga
curahan hati orang yang berkelana dari Padang-Payakumbuh-Pekanbaru hingga Rokan
Hilir. Ini hanya sebuah cerita. Cerita untuk mengingat sebuah makna.
Cerita yang akan mengingatkan penulisnya, atau yang membacanya. Bahwa negeri
ini memiliki sejuta keindahan juga segudang “kengerian”. Juga tak mungkin
menuliskan semua yang aku alami. Berkeliling Payakumbuh. Sampai aku terpaksa
sholat jum’at di atas menara. Rabb, ampun. Kalau bukan karena keterbatasan
hamba-Mu ini. Tak mungkin aku berani menjalaninya. Saat adzan jum’at
berkumandang, yang ku dengar hanya suaranya. Sedang dari mana asalnya, tak
sedikit pun mata ini melihatnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya
ribuan pohon kelapa sawit. Maka segera ku hentikan pekerjaan, segera
mengusapkan tangan pada besi-besi baja, berharap ada debu yang tersangkut. Lalu
duduk diam, seksama mendengarkan gema dari suara khutbah. Yang ingin aku
ceritakan adalah kota-kota kecil di ujung timur pulau sumatera. Duri. Siapa
yang tidak pernah dengar tempat ini. Terlebih lagi mahasiswa di kota seberang
sana. Selalu berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk bekerja disini. Kadang
ada yang rela menunggu bertahun tahun. Bukan karena tempat ini menyimpan sejuta
keindahan. Tapi disini, di Duri-Riau, dijanjikan kekayaan. “2.000.000.000 barel
Minyak Duri”, slogan singkat dari Perusahaan Asing yang namanya begitu
mengudara. Bukan hanya disana, tapi mengudara di saentero dunia. Bukankah itu
jumlah yang sangat banyak? Bukankah seharusnya itu cukup untuk membuat
penduduknya kaya raya? Bukankah itu jumlah yang cukup untuk mendirikan sebuah
pembangkit listrik? Bagiku itu cukup. Tapi mungkin tidak bagi mereka. Karena
tak jauh dari pompa-pompa otomatis penarik minyak dari perut bumi. Tak lebih
dari 50 km. Lampu semprong masih eksis digunakan. Memberikan sedikit cahaya
untuk mengurangi gelapnya rumah yang terbuat dari kayu hutan. Panggung, gelap,
dan mungkin pengap. Tak jauh dari pompa-pompa penarik minyak dari perut bumi
itu. Hampir tak ada lagi kehidupan yang layak. Bagaimana mereka bisa hidup
tanpa air? Bukan karena tidak ada air. Tapi karena air mereka bercampur dengan
minyak. Hitam. Nyaris tak tertembus panasnya matahari. Tepat mengalir di bawah
rumah panggung mereka. Tepat berjajar dengan pipa baja berlogo ‘ V ’ bertopeng
aset negara. Miris. Di kepalaku bermunculan pertanyaan: Apa saat memasang
pipa-pipa besar itu mereka menutup matanya? Tidak mungkin. Atau mungkin saat
memasangnya, mereka memalingkan wajahnya? Padahal kengerian itu berada tepat di
hadapan mereka. Berjajar dengan tingginya pondasi yang menopang pipa emas
mereka. Lalu dari mana datangnya air untuk minum? Mereka tidak semata-mata
dapat gratis dari orang asing tadi. Mereka juga tidak sedikitpun mengemis
padanya. Mereka bahkan tidak dapat mencarinya. Mereka membuatnya dari air yang
ada. Air hitam. Ya, air yang bercampur minyak tadi diendapkannya dalam sebuah
wadah. Kemudian mereka tunggu 1-2 minggu. Sampai minyak berada di atas air dan
air di bawah minyak. Air itulah sumber kehidupannya. Air itu pula yang
menyegarkan tenggorokannya. Dan taukah ketika air itu menyentuh lidahmu? Kalian
harus mencobanya sendiri. Biarlah, biar kehidupan mereka tetap di sana. Biar
mereka tetap jadi bukti ke-ngeri-an negeri ini. Biar mereka tetap jadi catatan
hitam. Terlebih bagi mereka yang bangga mengabdikan diri demi keuntungan orang
asing. Aku tetap pada pekerjaanku. Menjangkau pelosok-pelosok dengan
segala resikonya. Dumai. Tempat singgah yang paling dekat dengan kordinat
berikutnya. Desa Sialang, kabupaten Batu Hampar, Rokan Hilir-Riau. Kali ini
matahari beraktifitas lebih dulu sebelum aku bertemu Pak Muzrijal. Lagi.
Seorang mantan abdi negara yang memegang kemudi. Tapi bukan kemudi roda empat
seperti babeh. Pak Muz (begitu seterusnya aku memanggilnya) seorang “Tukang
Ojeg”. Begitulah orang menyebutnya. 40 Tahun sebagai anggota TNI angkatan
darat. Dan masa tugasnya akan berakhir, kurang satu bulan dari sekarang. Dumai
adalah satu-satunya kota terdekat. Maka kami menempuhnya 4 jam dengan motor
separuh tuanya. Melewati pipa pipa penyalur minyak di pinggir jalan. Melewati
rumah-rumah panggung yang di bawahnya mengalir air hitam pekat. Juga melewati iring-iringan
pegawai perusahan ‘ V ’ yang sibuk memperbaiki pipa emasnya sambil menutup
mata. Ingin sekali melontarkan kalimat ini pada mereka “SAY NO TO YOUR F**K**G
BOS !”.
Pak Muz banyak
menceritakan tentang tempat ini. Negeri yang menurutnya surga bagi mereka para
pemburu harta. Disini minyak tidak perlu di gali dalam-dalam. Tentang
kekecewaannya pada negara yang di belanya bertahun-tahun dan lain sebagainya.
Darinya pula aku tahu 2 km dari sana ada satu kehidupan yang berbeda 720 derajat. Disana tak perlu lagi menyuling air. Itu
berarti tak ada air yang bercampur minyak. Tak perlu lagi tinggal di atas
panggung-panggung kayu. Bahkan semua fasilitas di kota besar tersedia. Rumah
sakit, sekolah, lapangan sepak bola, bahkan didalam sana ada lapangan Golf (melihat
sendiri waktu pulang ke pekanbaru). PERUMAHAN PERTAMINA-CHEVRON RU-II.
Kehidupan yang 180 derajat berbeda
dengan penduduk aslinya. Habis kalimatku untuk membahasnya. Hingga pekerjaan
selesai pun tak akan cukup untuk memikirkan jutaan kengerian disana. Aku hampir
kecewa karena tidak sempat bertemu dengan anak-anak penduduk asli tempat ini.
Begitu sepi. Hanya tampak sedikit orang mengurusi pohon sawitnya. Hingga adzan
dari mushala kecil mempertemukan aku dengan mereka. Anak-anak penduduk asli
timur Sumatera. Di mushala kecil tempat mereka mengaji. Ramai sekali.
Sepertinya baru selesai mereka mengaji. Senang rasanya melihat mereka begitu
bersemangat. Akupun tak ragu mendekat. Perlahan mulai berinteraksi dengan
mereka. Hingga aku teringat titipan seorang teman dari seberang. Untuk membuat
mereka semakin antusias ku tawarkan berfoto. Seketika suasana semakin ramai.
Begitu antusias. Mereka saling merapat. Saling memanggil satu dengan yang lain.
Hitungan tiga semua mata menuju pada kamera. Satu teriakan bersama
"Aaaaaaa". Semakin ramai ketika ku tunjukkan foto mereka di kamera.
Saling menertawakan. Saling menunjuk wajah satu sama lain. Ramai sekali.
Terlebih saat aku keluarkan titipan temanku (semoga jadi amal sholeh bagimu).
Beberapa buku dan satu set spidol warna. “siapa disini yang sudah bisa
membaca?” serentak tangan-tangan kecil itu mengacung ke udara. Saling
mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan. Maka ku tunjuk salah satu dari
mereka untuk membaca sampul dari buku yang ku pegang. Perlahan dan terbata tapi
berhasil di bacanya “ Doo’aa See-ha-rii- Haa-rii”. Alhamdulillah. Seketika
hilang keringat setelah bertarung dengan menara. Seketika dapat ku tatap
matahari dengan bangga. Satu pertanyaan dari mereka menutup hari itu, “Kaka
kapan kesini lagi?”. Insya Allah.
Kisah diatas
hanyalah salah satu kisah perjalanan teman saya yang bertugas menjelajahi
pelosok negeri ini, negeri yang usianya telah menginjak 68 tahun. Masih banyak
jutaan rakyat di negeri yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam) ini yang belum
merdeka. Merdeka dari jeratan kemiskinan dan kebodohan. Tak perlu mengutuk ataupun membenci negeri
ini, karena siapa lagi yang akan memperbaki dan merubah keadaan selain kita
generasi muda yang akan menjadi pahlawan bagi penduduk pribumi. “Talk less do more!” Mulai dari hal yang
kecil, mulai dari diri sendiri. Dari setiap individu, karena dari hal yang kecil itulah akan
menjadi besar. Indonesia membutuhkan pemuda-pemudi yang mempunyai tekad yang
kuat dan kerja keras, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, intelektual
serta moral dan budi pekerti yang luhur sehingga mampu mewujudkan Indoesia yang
sejahtera dan bermartabat.
Wrote by : Meriyanawati
NIM : 115211019
Program Studi : Administrasi Bisnis
KORWAT LPS ( Lembaga Pengembangan Spiritual )
DKM Luqmanul Hakim POLBAN
2013
Semoga Bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar