Kamis, 05 September 2013

Essai : Indonesiaku belum Hijau, belum Merdeka Seutuhnya





Ringkasan:
Indonesiaku belum Hijau, belum Merdeka Seutuhnya

Tepat dihari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2013. Usia Indonesia kini sudah 68 tahun. Saya mencoba berbagi cerita yang bukan sebuah cerita fiktif ataupun dongeng belaka. Ini kisah nyata. Saya kira cerita pilu ini seharusnya sudah tidak ada lagi di bumi pertiwi. Sudah setengah abad lebih Indonesia telah merdeka. Keluar dari ketertindasan oleh penjajah. Namun tahukah Kau kawan? Membaca kisah ini akan membuat tubuh ini seperti tersengat aliran listrik. Sebuah catatan yang dikirimkan teman saya setahun yang lalu, di akun jejaring sosial yang saya adaptasi dan sudah berlisensi dari teman saya. Dwi Fitrianto. Ini salah satu kisah perjalanan beliau yang bertugas menengok tower-tower (audit tower), menjangkau wilayah pelosok negeri ini.

-Bumi Minang Hingga Bumi Minyak-
25 September 2012 pukul 13:02
Mata ini masih tertutup ketika matahari pagi memaksa masuk dan menembus kelopak. Dari celah-celah jendela kabin tampak semburat cahaya merah. Indah. Sangat indah. Maha karya dari yang  Maha Indah. Pagi itu seperti hilang lelah di bandara. Setelah berlari mengejar waktu terbang si burung besi. Dan sekarang seperti berada di negeri awan. Dengan matahari sebagai rajanya.
19 September 2012
Burung besi ini tepat melintas di atas langit Sumatera. “Welcome to Bandara Internasional Minangkabau, Padang.” kalimat sambutan yang terbaca besar sesaat setelah kaki menginjak bumi Padang. Jujur saja dari sini aku tidak tahu mau kemana. Entah bertemu dengan siapa atau nanti akan berhadapan dengan siapa. Karena sekarang beda dengan biasanya. Kali ini kosong. Belum ada surat izin lengkap dari Jakarta. Itu berarti tidak ada alamat. Itu berarti tidak ada kordinat. Itu berarti, manjat pagar!.

Sesaat teringat  pendapat teman-teman. Mereka bilang pekerjaan seperti ini hebat. Travelling all around Indonesia. Pasti dompet tebal. Pengalaman banyak. Bisa kenal kampung orang. Dan lain-lain dan lain-lain. Padahal semua itu sebanding dengan resiko yang ada. Seperti ini. Bahkan aku tidak tahu harus kemana. Bahkan aku tidak tahu apakah di depan masih ada jalan. Bahkan aku tidak tahu dengan siapa aku akan berhadapan. Yang aku tahu hanya satu. Allah tahu. Ia tahu aku merindukan keluargaku di rumah. Beruntung kali ini sudah ada yang menjemput di bandara. Supir. Tidak tega aku menyebutnya. Seorang bapak, usianya cukup tua. Sebenarnya terlalu tua untuk memegang kemudi. Tapi sudah menjadi pekerjaannya. Aku yakin saja. Hanya sedikit basa basi menawarkan diri menggantikannya di bangku kemudi. Benar saja. Caranya mengemudi tidak seperti kebanyakan orang Sumatera. Terlihat seperti ragu. Maka sambil menunggu pesan dari Jakarta, aku habiskan waktu pagi untuk mengenal kota ini. Sambil mengisi perut dan berbagi cerita dengan bapak pemegang kemudi.  “Makan nasi padang di padang” aku suka sekali  kalimat ini. Padahal disini tidak ada restoran nasi padang. Tapi tetap saja judul ceritanya makan nasi padang. Jauh berbeda dengan nasi padang KW-1 di Jakarta, Bandung atau kota lainnya. Disini  tidak perlu mendengar “Mau pake apa?”. Cukup duduk di tempat yang sudah disediakan maka semua lauk pauk yang ada di restoran itu disajikannya serentak. Lengkap, tanpa tertinggal satupun.  Babeh, berikutnya aku panggil bapak tadi. Ia banyak bercerita tentang Padang. Tentang kota ini. Tentang temanku yang dulu pernah diantarnya. Tentang keluarganya. Tentang kehidupannya sebelum ini. Siapa yang menyangka beliau dulu seorang abdi negara, POLRI. 38 tahun mengabdikan diri di kepolisian resort padang.  Sekarang masa tugasnya telah berakhir. Maka dimulailah kehidupan barunya. Aku tak habis pikir dengan Negeri ini. Apa yang salah, siapa yang harus bertanggung jawab. 38 Tahun mengabdikan diri untuk negeri. Dan sekarang harus berakhir di bangku kemudi. Setidaknya dua hari bersama Babeh berkeliling kota Pariaman sampai mendatangi pelosok kota Padang. Babeh bilang gempa yang telah terjadi mengubah sepenuhnya tempat ini. Bahkan wilayah pesisir kini ditinggalkan. Harga tanah turun drastis. Maka kehidupan pun perlahan menghilang. Tapi sekarang justru aku di tuntut kesana. Wilayah pesisir Padang Pariaman. Daerah yang menurut Babeh sudah ditinggalkan penduduknya. Katanya padahal dulu tempat ini adalah wisata andalan kota Padang. Berbondong bondong orang datang untuk sekedar melepas penat di kota. Jelas saja. Pasir putih, ombak yang ramah serta jutaan keindahan lainnya. Ditambah ini adalah gerbang indonesia menuju laut lepas. Samudera Hinda. Benar, Kehidupan seperti berganti dengan ketakutan. Rumah di pinggir pantai kosong ditinggalkan penghuninya. Beberapa bangunan bekas penginapan juga kosong tak berpenghuni. Desa ini seperti terdoktrin dengan ganasnya laut. Ditambah beberapa papan yang justru membuat takut dan trauma, bertuliskan “Jalur Evakuasi Tsunami”.
Matahari seperempat berada di ujung barat saat aku berada di seperempat ketinggian menara. Beruntung pekerjaan hanya di bagian bawah. Dengan tinggi menara 70 meter. Sudah pasti matahari menari nari di puncak sana. Membakar apapun yang di temuinya. Alhamdulillah. Lokasi terakhir ini hanya di bagian bawah, maka aku bisa menjulurkan lidahku pada matahari. “Hehe.” Tawaku dalam hati menghibur diri. Sejenak suara merdu menghentikan pekerjaan. Keras terdengar dari bawah irama musik melayu. Tidak lama, kemudian berganti dengan alunan anak anak mengaji. Lucu sekali. Sepertinya di dalam mushala mereka berebut mikrophone. Saling mengeraskan suara masing-masing. Andai saja pekerjaanku selesai saat itu, ingin sekali ikut mereka berebut mikrophone. Pasti suaraku yang paling keras dan merdu. Aku tak mungkin menuliskan semuanya. Ini bukan catatan seorang bocah petualang yang menjelajah ujung barat hingga ujung timur Sumatera. Bukan juga curahan hati orang yang berkelana dari Padang-Payakumbuh-Pekanbaru hingga Rokan Hilir.  Ini hanya sebuah cerita. Cerita untuk mengingat sebuah makna. Cerita yang akan mengingatkan penulisnya, atau yang membacanya. Bahwa negeri ini memiliki sejuta keindahan juga segudang “kengerian”. Juga tak mungkin menuliskan semua yang aku alami. Berkeliling Payakumbuh. Sampai aku terpaksa sholat jum’at di atas menara. Rabb, ampun. Kalau bukan karena keterbatasan hamba-Mu ini. Tak mungkin aku berani menjalaninya. Saat adzan jum’at berkumandang, yang ku dengar hanya suaranya. Sedang dari mana asalnya, tak sedikit pun mata ini melihatnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya ribuan pohon kelapa sawit. Maka segera ku hentikan pekerjaan, segera mengusapkan tangan pada besi-besi baja, berharap ada debu yang tersangkut. Lalu duduk diam, seksama mendengarkan gema dari suara khutbah. Yang ingin aku ceritakan adalah kota-kota kecil di ujung timur pulau sumatera. Duri. Siapa yang tidak pernah dengar tempat ini. Terlebih lagi mahasiswa di kota seberang sana. Selalu berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk bekerja disini. Kadang ada yang rela menunggu bertahun tahun. Bukan karena tempat ini menyimpan sejuta keindahan. Tapi disini, di Duri-Riau, dijanjikan kekayaan. “2.000.000.000 barel Minyak Duri”, slogan singkat dari Perusahaan Asing yang namanya begitu mengudara. Bukan hanya disana, tapi mengudara di saentero dunia. Bukankah itu jumlah yang sangat banyak? Bukankah seharusnya itu cukup untuk membuat penduduknya kaya raya? Bukankah itu jumlah yang cukup untuk mendirikan sebuah pembangkit listrik? Bagiku itu cukup. Tapi mungkin tidak bagi mereka. Karena tak jauh dari pompa-pompa otomatis penarik minyak dari perut bumi. Tak lebih dari 50 km. Lampu semprong masih eksis digunakan. Memberikan sedikit cahaya untuk mengurangi gelapnya rumah yang terbuat dari kayu hutan. Panggung, gelap, dan mungkin pengap. Tak jauh dari pompa-pompa penarik minyak dari perut bumi itu. Hampir tak ada lagi kehidupan yang layak. Bagaimana mereka bisa hidup tanpa air? Bukan karena tidak ada air. Tapi karena air mereka bercampur dengan minyak. Hitam. Nyaris tak tertembus panasnya matahari. Tepat mengalir di bawah rumah panggung mereka. Tepat berjajar dengan pipa baja berlogo ‘ V ’ bertopeng aset negara. Miris. Di kepalaku bermunculan pertanyaan: Apa saat memasang pipa-pipa besar itu mereka menutup matanya? Tidak mungkin. Atau mungkin saat memasangnya, mereka memalingkan wajahnya? Padahal kengerian itu berada tepat di hadapan mereka. Berjajar dengan tingginya pondasi yang menopang pipa emas mereka. Lalu dari mana datangnya air untuk minum? Mereka tidak semata-mata dapat gratis dari orang asing tadi. Mereka juga tidak sedikitpun mengemis padanya. Mereka bahkan tidak dapat mencarinya. Mereka membuatnya dari air yang ada. Air hitam. Ya, air yang bercampur minyak tadi diendapkannya dalam sebuah wadah. Kemudian mereka tunggu 1-2 minggu. Sampai minyak berada di atas air dan air di bawah minyak. Air itulah sumber kehidupannya. Air itu pula yang menyegarkan tenggorokannya. Dan taukah ketika air itu menyentuh lidahmu? Kalian harus mencobanya sendiri. Biarlah, biar kehidupan mereka tetap di sana. Biar mereka tetap jadi bukti ke-ngeri-an negeri ini. Biar mereka tetap jadi catatan hitam. Terlebih bagi mereka yang bangga mengabdikan diri demi keuntungan orang asing. Aku tetap pada pekerjaanku. Menjangkau pelosok-pelosok dengan segala resikonya. Dumai. Tempat singgah yang paling dekat dengan kordinat berikutnya. Desa Sialang, kabupaten Batu Hampar, Rokan Hilir-Riau. Kali ini matahari beraktifitas lebih dulu sebelum aku bertemu Pak Muzrijal. Lagi. Seorang mantan abdi negara yang memegang kemudi. Tapi bukan kemudi roda empat seperti babeh. Pak Muz (begitu seterusnya aku memanggilnya) seorang “Tukang Ojeg”. Begitulah orang menyebutnya. 40 Tahun sebagai anggota TNI angkatan darat. Dan masa tugasnya akan berakhir, kurang satu bulan dari sekarang. Dumai adalah satu-satunya kota terdekat. Maka kami menempuhnya 4 jam dengan motor separuh tuanya. Melewati pipa pipa penyalur minyak di pinggir jalan. Melewati rumah-rumah panggung yang di bawahnya mengalir air hitam pekat. Juga melewati iring-iringan pegawai perusahan ‘ V ’ yang sibuk memperbaiki pipa emasnya sambil menutup mata. Ingin sekali melontarkan kalimat ini pada mereka “SAY NO TO YOUR F**K**G BOS !”.
Pak Muz banyak menceritakan tentang tempat ini. Negeri yang menurutnya surga bagi mereka para pemburu harta. Disini minyak tidak perlu di gali dalam-dalam. Tentang kekecewaannya pada negara yang di belanya bertahun-tahun dan lain sebagainya. Darinya pula aku tahu 2 km dari sana ada satu kehidupan yang berbeda 720 derajat. Disana tak perlu lagi menyuling air. Itu berarti tak ada air yang bercampur minyak. Tak perlu lagi tinggal di atas panggung-panggung kayu. Bahkan semua fasilitas di kota besar tersedia. Rumah sakit, sekolah, lapangan sepak bola, bahkan didalam sana ada lapangan Golf (melihat sendiri waktu pulang ke pekanbaru). PERUMAHAN PERTAMINA-CHEVRON RU-II. Kehidupan yang  180 derajat berbeda dengan penduduk aslinya. Habis kalimatku untuk membahasnya. Hingga pekerjaan selesai pun tak akan cukup untuk memikirkan jutaan kengerian disana. Aku hampir kecewa karena tidak sempat bertemu dengan anak-anak penduduk asli tempat ini. Begitu sepi. Hanya tampak sedikit orang mengurusi pohon sawitnya. Hingga adzan dari mushala kecil mempertemukan aku dengan mereka. Anak-anak penduduk asli timur Sumatera. Di mushala kecil tempat mereka mengaji. Ramai sekali. Sepertinya baru selesai mereka mengaji. Senang rasanya melihat mereka begitu bersemangat. Akupun tak ragu mendekat. Perlahan mulai berinteraksi dengan mereka. Hingga aku teringat titipan seorang teman dari seberang. Untuk membuat mereka semakin antusias ku tawarkan berfoto. Seketika suasana semakin ramai. Begitu antusias. Mereka saling merapat. Saling memanggil satu dengan yang lain. Hitungan tiga semua mata menuju pada kamera. Satu teriakan bersama "Aaaaaaa". Semakin ramai ketika ku tunjukkan foto mereka di kamera. Saling menertawakan. Saling menunjuk wajah satu sama lain. Ramai sekali. Terlebih saat aku keluarkan titipan temanku (semoga jadi amal sholeh bagimu). Beberapa buku dan satu set spidol warna. “siapa disini yang sudah bisa membaca?” serentak tangan-tangan kecil itu mengacung ke udara. Saling mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan. Maka ku tunjuk salah satu dari mereka untuk membaca sampul dari buku yang ku pegang. Perlahan dan terbata tapi berhasil di bacanya “ Doo’aa See-ha-rii- Haa-rii”. Alhamdulillah. Seketika hilang keringat setelah bertarung dengan menara. Seketika dapat ku tatap matahari dengan bangga. Satu pertanyaan dari mereka menutup hari itu, “Kaka kapan kesini lagi?”. Insya Allah.
Kisah diatas hanyalah salah satu kisah perjalanan teman saya yang bertugas menjelajahi pelosok negeri ini, negeri yang usianya telah menginjak 68 tahun. Masih banyak jutaan rakyat di negeri yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam) ini yang belum merdeka. Merdeka dari jeratan kemiskinan dan kebodohan.  Tak perlu mengutuk ataupun membenci negeri ini, karena siapa lagi yang akan memperbaki dan merubah keadaan selain kita generasi muda yang akan menjadi pahlawan bagi penduduk pribumi. “Talk less do more!” Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri. Dari setiap individu,  karena dari hal yang kecil itulah akan menjadi besar. Indonesia membutuhkan pemuda-pemudi yang mempunyai tekad yang kuat dan kerja keras, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, intelektual serta moral dan budi pekerti yang luhur sehingga mampu mewujudkan Indoesia yang sejahtera dan bermartabat.

Wrote by : Meriyanawati
NIM : 115211019
Program Studi : Administrasi Bisnis
KORWAT LPS ( Lembaga Pengembangan Spiritual )
DKM Luqmanul Hakim POLBAN
2013





Semoga Bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar