Dua Jenis Nikmat
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu membagi
nikmat ke dalam dua bagian.
Pertama, An-ni’mah Al-Muthlaqah
Yaitu kenikmatan yang bisa mengantarkan kita pada
kebahagiaan abadi. Misalnya, nikmat iman dalam berislam dan memahami As- sunah.
Allah memerintahkan kita untuk memohon dapat meraup nikmat ini. “Dan
barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa`: 69).
Kedua, An-Ni’mah Al-Muqayyadah.
Yaitu kenikmatan yang digambarkan seperti nikmat
memperoleh kesehatan, kekayaan, kekuatan jasad, kedudukan, banyak anak dan
memiliki para istri yang baik, serta nikmat-nikmat yang sejenis.
Kenikmatan semacam ini diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan, juga
kepada orang yang berbuat kemaksiatan, mukmin maupun kafir. Kenikmatan
seperti di atas, bila diberikan kepada orang kafir, merupakan bentuk istidraj
dengan kenikmatan itu, mengarahkan dirinya kepada azab, petaka. Hakikatnya dia
tidak memperoleh nikmat, tapi sesungguhnya dirinya memperoleh bala (sesuatu
yang bisa menyusahkan).
Hendaknya Kita Bersyukur
Maka saat mendapat
nikmat dari Allah swt hendaknya kita bersyukur sebagai bentuk ketaatan kita.
Dalam menerima ujian kita sikapinya dengan dua keadaan, apabila Allah
mencukupkan, maka hendaknya kita bersyukur, dan apabila Allah menyempitkan maka
hendaknya kita bersabar.
Karena jika seseorang
telah dikaruniai nikmat oleh Allah hendaknya ia memanfaatkan nikmat tersebut
dijalan yang diridhai Allah agar tidak menghadirkan malapetaka, jangan sampai
karunia nikmat tersebut malah menyeret penerimanya kepada sesuatu yang dimurkai
Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar